Catatan itu masih terbaca : Luka!
Saat itu malam, masih remaja
aku belum menerjemahkan dendam
Kau datang tiba-tiba
seperti sulur akar-akar beringin tua
menancap terlalu dalam di lantai beranda
tempat kita membina cemburu
Kau bertanya : “Mengapa kita harus mesra?”
aku temukan jawaban
hanya pada baris jejak-jejak yang semakin hilang
Jember, Januari 2003
Sulung Lukman
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
03 Desember 2008
Asmara Tempo hari (1)
Becek dan lembab jalanan menuju rumahmu
kaca jendelanya buram jadi cermin basah
masih kuingat irama nafasmu saat
mendongeng cerita stensilan
- kau mendesah di akhir cerita
aku kecewa : nyatanya benih cuma
ditebar di tanah tandus
aku ketuk pintu rumahmu – kau tentu ada di situ
tapi mengapa cuma kau intip?
... kaca jendela itu buram!
Jember, Januari 2003
Sulung Lukman
kaca jendelanya buram jadi cermin basah
masih kuingat irama nafasmu saat
mendongeng cerita stensilan
- kau mendesah di akhir cerita
aku kecewa : nyatanya benih cuma
ditebar di tanah tandus
aku ketuk pintu rumahmu – kau tentu ada di situ
tapi mengapa cuma kau intip?
... kaca jendela itu buram!
Jember, Januari 2003
Sulung Lukman
Laporan Investigasi Seorang Mata-mata
Sungguh sudah kulihat jalinan kawat berduri itu
sebagai barikade mengelilingi ladang-ladang bacaan.
Barikade-barikade pemberi peringatan
: Awas tegangan tinggi! Dilarang masuk!
Tinggal sejengkal.
Cuma sejengkal lahan milik kita
:Ladang bagi benih-benih dan pohon-pohon cinta.
Bahkan, tak ada lagi panen raya tahun depan
Tinggal doa.
Cuma doa dijejal berdesak-desak
di ruang-ruang paling rahasia.
Seperti bisik-bisik para pejuang: kita ditipu,
untuk bercinta di tanah yang paling tandus!
Maka, hati-hati kawan,
tak seberapa lama hitungan waktu
lahan cuma sejengkal ini akan jadi medan perang
- musnah, menyisakan kuburan
mayat-mayat pahlawan tanpa kepala – milik kita
Jember, Februari 2003
Sulung Lukman
sebagai barikade mengelilingi ladang-ladang bacaan.
Barikade-barikade pemberi peringatan
: Awas tegangan tinggi! Dilarang masuk!
Tinggal sejengkal.
Cuma sejengkal lahan milik kita
:Ladang bagi benih-benih dan pohon-pohon cinta.
Bahkan, tak ada lagi panen raya tahun depan
Tinggal doa.
Cuma doa dijejal berdesak-desak
di ruang-ruang paling rahasia.
Seperti bisik-bisik para pejuang: kita ditipu,
untuk bercinta di tanah yang paling tandus!
Maka, hati-hati kawan,
tak seberapa lama hitungan waktu
lahan cuma sejengkal ini akan jadi medan perang
- musnah, menyisakan kuburan
mayat-mayat pahlawan tanpa kepala – milik kita
Jember, Februari 2003
Sulung Lukman
Langganan:
Postingan (Atom)